Powered By Blogger

Sabtu, 22 November 2014

PERAN UPACARA BAKAR BATU DALAM MENGATASI KONFLIK SUKU DI PAPUA

A.      Latar Belakang Masalah
Tanah Papua merupakan salah satu wilayah di indonesia yang masih menyimpang berbahagai macam permasalahan sosial. Salah satu masalah sosial yang sampai sekarang telah ada dan masih terjadi adalah konflik sosial. Konflik sosial yang terjadi di Tanah Papua sangat beragam dan mencakup semua ini kehidupan, melai dari aspek sosial, budaya, politik dan ekonomi. Konflik sosialyang terjadi di Tanah Papua pada beberapa tahun belakang ini juga tidak terlepas dari pokok permasalahan tersebut utamanya adalah konflik sosial yang di picu oleh perbedaan suku, budaya dan golongan atau kelompok, sesuai dengan karakteristik dan dianggapnya sebagai salah satu permasalahan yang dapat merugikan dan mengganggu bahkan melanggar aturan dan norma yang berlaku pada suku-suku yang ada.
Papua merupakan provinsi di Indonesia bagian paling timur, Luas wilayah Papua adalah 421.981 KM2 dengan topografi yang meliputi daerah pegunungan dan sebagian besar tanahyang berawa-rawa di daerah pesisir[1]. Selain itu Papua juga memiliki berbagai macam keanekaragaman budaya, suku-suku, dan kaya akan sumber daya alam. Masyarakat Papua sebagian besar adalah petani. Mereka bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Papua merupakan salah satu wilayah yang sangat kaya akan sumber daya alam walaupun begitu wilayah ini masih tertinggal dibandingkan dengan wilayah lain. Hal ini disebabkan karena kurangnya perhatian pemerintah  akan wilayah Papua. 
Mendengar kata Papua secara tidak langsung akan terlintas dipikiran kita tentang berbagai macam konflik yang terjadi. Konflik antara masyarakat dengan pihak industri/perusahaan, masyarakat dengan pihak aparat keamanan, dan konflik yang terjadi antar suku-suku di Papua. Ketidakadilan sosial,  kesenjangan ekonomi, interfensi politik dan rusaknya lingkungan hal- hal ini yang menimbulkan terjadinya konflik suku di Papua menjadi sering terjadi2.
Kurangnya  pendidikan juga mengakibatkan konflik suku di Papua sering terjadi. Wilayah Papua merupakan daerah yang  sangat kaya dengan sumberdaya alamnya (SDA) tetapi kesejahtraan di Papua masih sangat kurang dan papua di catat sebagai salah satu daerah termiskin di Indonesia. Hal ini menjadi pertanyaan mengapa daerah yang kaya dengan sumber daya alamnya yang melimpah tetapi tingkat kesejahtraan sangat rendah.Ini juga yang menimbulkan sering terjadinya konflik  antara suku – suku di Papua.
Akan tetapi massyarakat Papua masih memiliki adat yang kental. Di mana ada kebiasaan massyarakat Papua untuk mengatasi konflik yaitu upacara Bakar batu. Upacara bakar batu ini di gunakan dalam acara- acara besar masyarakat Papua dan sebagai sarana perdamaian di antara suku- suku yang berkonflik, di mana upacara bakar batu ini mempertemukan pihak –pihak yang bertikai dan saling bergontong royong dalam membuat upacara ini dan kemudian di makan secara bersama–sama sebagai tanda perdamaian di antara keduanya.
Upacara bakar batu ini menjadi efektif sebagai sarana perdamayan konflik suku di Papua, hal ini tidak terlepas dari kebiasaan massyarakat papua yang masi kental akan budaya dan adat setempat. Namun perlu juga peran pemerintah dalam mengatasi konflik di papua dengan membari pendidikan dan mensejahtrakan massyarakat papua agar konflik suku bisa dia atasi karna hasil penilitian menunjukan bahwa penyebab terjadinya konflik di papua adalah ketidak adilan sosial, faktor ekonomi dan kurangnya pendidikan bagi massyarakat sosial.

B. Rumusan Masalah
1.         Faktor- faktor penyebab konflik suku di Papua..?
2.        Bagaimana fungsi dari upacara Bakar Batu dalam mengatasi konflik suku di Papua..?
C .Manfaat penilitian
1.      Untuk mengetahui sebab- sebab terjadinya konflik suku di papua
2.      Sebagai rekomendasi kepada pemerintah untuk menanggulangi konflik suku di papua.
3.      Sebagai sarana pembelajaran.




D. Kerangka Teori
Penilitian Terdahulu
No
Peniliti/Judul
Metode penilitian
Kesimpulan
1
Sugandi,Y, 2008, “Mereduksi Konflik dan Rekomendasi Kebijakan Mengenai Papua
Analisis Deskriptif
Berbagai hal yang peru diperhatikan dalam mereduksi konflikdan kebijakan di Papua yaitu harus memberikan perlindungan terhadap penduduk asli Papua sampaipada tingkat desa. Memastikan kesinambungan dari program  tersebut menyentuh kelompok rentan.Strategi intervensi harus mempunyai kebijakan yangseimbang baik dalam konteks dan pada para pelaku, danmendukung program mandiri di Papua akanmempertegas martabat dari penduduk asli Papua ditanah mereka sendiri.
2
Siahaan, F, 2010, Mereduksi Konflik Vertikal dan Horizontal di Papua
Analis Deskriptif
1. Penyebab secara vertikal adalah gaya kepentingan nasional yang menempatkan kepentingan etnis tertentu di atas kepentingan umum diikuti oleh kurangnya kapasitas nasional dalam mengelolah pemerintahan yang sarat dengan hal-hal yang beriontasi proyek dari pada yang bermanfaat bagi publik.
2.Penyeban secara horizontal di sebabkan kekesalan penduduk Papua akan kesejahtraan hidub mereka.
3
Kogoya, U, “Peran kepala suku dalam mengaatasi konflik antara suku Damil dan suku di kabupaten (studi kasus di Mimika provinsi Papua).
Deskriptif kualitatif
Konflik yang terjadi di antara suku Dani dan suku Damal yang ada di Kabupaten Mimika di mulai sejak pertengahan tahun 2013, yaitu di daerah tambang emas dimana kedua suku ini menjadi tambang Mimika sebagai sumber mata pencaharian, berawal dari salah satu perempuan suku dani di perkosa oleh salah satu anggota suku damal, hal ini tidak dapat diterima oleh suku Dani, secara spontan anggota suku Dani menyerang suku Damal, sehingga terjadilah perang antara suku dani dan suku Damal.
 Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa kepala suku tidak mampu meredam konflik, serta memberikan ketenangan bagi anggota.

Teori Konflik
Menurut Edward Azar, menyebutkanada3pra-kondisi yang mengarahpadaterjadinyaataupemicukonflik internal, yaitu :
1.     Hubungan yang tidak harmonis antara kelompok identitas seperti suku, agama dan budaya dengan pemerintah. Pemerintah cenderung tidak mengakui eksistensi kelompok identitas tersebut dan bahkan berusaha mengeliminasinya demi kepentingan dan keutuhan negara. Akibatnya, terjadi pertentangan terhadap kelompok identitas tertentu dan mendorong para anggotanya untuk melakukan perlawanan terhadap negara. Sebagai contoh, pemerintah Orde Baru telah mengancam eksistensi kelompok identitas Aceh dan Papua sehingga mereka bangkit dan melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintah pusat.
2.     Konflik juga dikaitkan dengan kenyataan bahwa pemerintah telah gagal dalam memenuhi kebutuhan dasar kemanusiaan sehingga terjadi proses kemiskinan. Proses secara ekonomi telah menciptakan kemiskinan sementara kekuatan ekonomi dan politik dari pusat menikmati surplus ekonomi sebagai hasil eksploitasi SDA di daerah-daerah yang dilanda konflik. Seperti contoh, bagi rakyat Aceh dan Papua bahwa di tengah kekayaan alam mereka yang berlimpah terdapat jumlah penduduk miskin yang tergolong tinggi bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang tidak memiliki SDA.
3.     Sebab konflik internal berkaitan dengan karakteristik pemerintahan yang otoriter dan mengabaikan aspirasi politik dari masyarakat. Dalam hal ini pemerintah pusat menyakini asumsi bahwa kekuasaan yang terpusat (sentral) menjamin kontrol yang efektif atas masyarakat. Bahkan kekuatan militer digunakan terhadap setiap bentuk protes atau perlawanan terhadap pemerintahan yang otoriter. Pemerintah daerah juga tidak dapat berfungsi sebagai alat perjuangan kepentingan masyarakat daerah dikarenakan elit-elit daerah ikut menikmati eksploitasi SDA.
Menurut Michel E. Brown, kompleksitas konflik internal tidak hanya dijelaskan hanya oleh satu faktor atau variabel pada kebijakan atau perilaku elit pemimipin sebagai pemicu terjadinya konflik di suatu daerah, bahwa faktor-faktor sruktural, politik, ekonomi, sosial, budaya menjadikan suatu daerah rentan terhadap terjadinya konflik.
Tabel 1.1.Sebab-sebabutamadansebab-sebabpemicukonflik internal
Sebab utama (underlying causes)
Sebab pemicu (proximate causes)
Faktor Struktural :
·         Negara yang lemah
·         Kekhawatiran tentang keamanan internal
·         Geografis etnis
Faktor Struktural :
·         Negara yang sedang runtuh/gagal
·         Perubahan perimbangan kekuatan militer
·         Perubahan pola-pola demografis
Faktor Politik :
·         Lembaga politik yang diskriminatif
·         Ideologi nasional yang eksklusif
·         Politik antar kelompok
·         Politik elit
Faktor Politik :
·         Transisi politik
·         Ideologi eksklusif yang semakin berpengaruh
·         Persaingan antar kelompok yang semakin tajam
·         Pertarungan kepimpinan yang semakin tajam
Faktor Ekonomi/Sosial :
·         Masalah ekonomi
·         Sistem ekonomi yang diskriminatif
·         Pembangunan ekonomi dan modernisasi
FaktorSosialBudaya :
·         Pola diskriminasi budaya
·         Sejarah kelompok yang bermasalah
Faktor Ekonomi/Sosial :
·         Masalah ekonomi yang semakin parah
·         Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar
·         Pembangunan ekonomi dan modernisasi yang cepat
FaktorSosialBudaya :
·         Pola diskriminasi budaya yang semakin kuat
·         Penghinaan etnis dan propaganda

Sumber :Yulius P. Hermawan, TransformasidalamStudiHubunganInternasional: Aktor, IsudanMetodologi, Yogyakarta, GrahaIlmu, 2007,  hal. 91

            Menurut Pierre  L Van dan Berghe berbendapat bahwa massyarakar majemuk sebagai berikut
1.      Terjadinya segmintasi ke dalam kelompok yang seringkali memiliki subkebudayaan yang berbeda satu sama lain
2.      Memiliki struktur sosial yang tebagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat neo-komplementer
3.      Kurang mengembangkan konsesus kepada anggotanya terhadab nilai- nilai yang bersifat dasar
4.      Secara relatif seringkali terjadi konflik kelompok yang satu dengan kelompok yang lain
5.      Secara relatif integrasi sosial tumbu di atas paksaan dan sering tergantung pada masalah ekonomi
6.      Adanya dominasi politik oleh satu kelompok dengan kelompok yang lain.

E. Pembahasan.
1.      Pengertian konflik dan sebabnya
MenurutWese Becker, konflikmerupakan proses sosialdimana orang ataukelompokmanusiaberusahamemenuhitujuannyadenganjalanmenentangpihak lain yang di sertaidenganancamanataukekerasan. Bentukkonflikbiasanyateridentifikasikanolehsuatukondisiolehsekelompokmanusia, yang di dalamnyaterdiridarisuku, etnis, budaya, agama, ekonomi, politik, sosial, yang berbedabeda.konflikdilatarbelakangiolehperbedaan-perbedaansosialdiantaraindividu yang terlibatdalamsuatuinteraksi sosial. Faktor-faktor yang memicu konflik antara lain:
a.    Perbedaan Individu
Merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat atau ide yang berkaitan dengan harga diri, kebanggaan dan identitas seseorang. Perbedaan kebiasaan dan perasaan yang dapat menimbulkan kebencian dan amarah sebagai awal timbulnya konflik. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

b.    Perbedaan Latar Belakang Kebudayaan
Kepribadian seseorang dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Tidak semua masyarakat memiliki nilai-nilai dan norma-norma sosial yang sama. Apa yang dianggap baik oleh suatu masyarakat belum tentu sama dengan apa yang dianggap baik oleh masyarakat. Misalnya orang jawa dengan orang papua yang memiliki budaya berbeda, jelas akan membedakan pola pikir dan kepribadian yang berbeda pula. Jika hal ini tak ada suatu hal yang dapat mempersatukan, akan berakibat timbulnya konflik.

c.         Perbedaan Kepentingan
Setiap individu atau keompok seringkali memiliki kepentingan yang berbeda dengan individu atau kelompok lainnya. semua itu bergantung dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Perbedaan kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Misalnya seseorang pengusaha menghendaki adanya penghematan dalam biaya suatu produksi sehingga terpaksa harus melakukan rasionalisasi pegawai. Namun, para pegawai yang terkena rasionalisasi merasa hak-haknya diabaikan sehingga perbedaan kepentingan tersebut menimbulkan suatu konflik. Misalnya mengenai masalah pemanfaatan hutan. Para pecinta alam menganggap hutan sebagai bagian dari lingkungan hidup manusia dan habitat dari flora dan fauna. Sedangkan bagi para petani hutan dapat menghambat tumbuhnya  jumlah areal persawahan atau perkebunan. Bagi para pengusaha kayu tentu ini menjadi komoditas yang menguntungkan. Dari kasus ini ada pihak– pihak yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga dapat berakibat timbulnya konflik.

d.   Perubahan Sosial
Perubahan sosial dalam sebuah masyarakat yang terjadi terlalu cepat dapat mengganggu keseimbangan sistem nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu atau masyarakat dengan kenyataan sosial yang timbul akibat perubahan itu. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

2.    Penyebab terjadinya konflik suku di Papua
Papua terkenal dengan ke eksotisan wilayanya,ragam budaya, sumberdaya alam yang melimpah, bermacam bahasa,suku, adat  dan sebagainya.Akan tetapi dengan keberagaman tersebut sering menimbulkan konflik salah satunya konflik suku. Ada dua ratus empat pulu enam suku yang mendiami wilayah papua yang mempunyai kebiasaan yang berbeda biasanya setiap suku mempunyai ketua atau yang di namai kepala suku yang di hormati oleh warga atau anggota.
Kekayaan alam yang melimpah seperti pertambangan berupa batu bara, emas, nikel dan lain- lain yang di ekspolitasi besar- besaran namun kesejahtraan massyarakat tidak terpenuhi Papua merupakan sala satu daerah yang kategorikan miskin dan keterbelakangan di indonesia. Hal ini di lihat dari presentasi masyaratat yang mengenyam pendidikan sangat rendah,dan tingkat kematian ibu dan adak yang banyak dan akses transportasi yang sangat minim.ini meninbulkan kekecewaan masyarakat papua sehingga manimbulkan aksi  yang mencoba memisahkan diri dari NKRI seperti OPM dan lain- lain. Sebagaimana  ada tanggapan bahwa Kepentingan orang Papua itu adalah terutama bahwa orang papua mau melepaskan diri dari belenggu penjajahan NKRI[2], Penulis perna bertanya  salah satu massyarakat papua yang menempuh pendidikan di Jogjakarta di 0 km Maliboro. Dia seakan mempertegas pernyataan ini bahwa Papua adalah jajahan NKRI karna dengan kekayaan alam Papua tidak mendapatkan apa- apa masyarakat papua hanya pendapatkan limbah perusahan.
Dengan keberagaman suku dan budaya di Papua juga menimbulkan terjadinya konflik Horizontal seperti konflik antar suku.ada beberapa pemicu konflik suku di papua yaitu Masalah persinahan atau perselingkuhan, pembunuhan, kematian tidak wajar, dan rasa dendam yang mendalammerupakan salah satu penyebab perang suku di daerah pedalaman Papua. Di samping itu konflik internal antara suku yang terjadi waktu lampau juga menjadi salah satu factor penyebab perang suku dan kelompok di daerah pedalaman Papua yang dapat menyebabkan kerugian secara fisik maupun materi lainnya..namun kalu kita cermati labih dalam konflik suku di picu  di akibatkan oleh kurangnya pendidikan untuk massyarakat sehingga suku yang bertikai yang merupakan massyarakat yang primitif menjadi tentan akan terjadinya konflik,kemudia ketidak adilan sosial sebagai mana penulis sampaikan dia atas bahwa kurangnya kesejahtraan bagi massyarakat papua menimbulkan tentan terjadinya konflik horinzontal antar warga suku  di papua kemudian kesenjangan ekonomin hal ini merupakan masalah krusial dagi massyarakat sering kali konflik antar suku di papua di picu oleh masalah sepeleh seperti perebutan tanah sampai dengan masalah politik.
Konflik yang terjadi di papua juga berimbas dari masalah politik  pemilukada misalnya seperti kejadian di kabupaten di Papua Barat ada oknum yang kalah memanfaatkan ke primitiffan massyarakat papua untuk membuat aksi seperti pembakaran Gedung KPU sehingga merembet sampai pada konflik antar suku di Papua Barat. Kemudian UU 34 THUN 2004 tentang pemilihan kepalah daerah langsung. tetapi tidak di beri pendidikan politik terhadap masyarakat papua khususnya untuk mampu menganalisis dan memilih secara demokratis.hal ini mengakibatkan oknom- oknum tertentu memmanfaatkan masyrakat papua melalui kepala suku untuk mendulang suara yang sebagai mana di ketahui bahwa kepala suku merupakan orang yang di hormati oleh massyarakatnya.
Oleh kerena itu penulis menyimpulkan bahwa konflik suku yang sering terjadi di Papua di sebabkan kurangnya pendidikan,ke tidak adilan, kesenjangan ekonomi dan interfensi politik namun pendidikan merupakan hal yang krusial dalam mengatasi konfli,konflik dalam masyarakat mejemuk memang tidak bisa di hindari akan tetapi potensi, bukan berarti potensi konflik ini tidak busa di minimalisir. Salah satu cara untuk mengeliminasir salah satu cara menimalir potensi konflik yaitu pendidikan[3]. Selain itu peran pemerintah juga menjadi sangat penting untuk menimalisir terjadinya konflik dengan cara memberi kehidupan yang layak dan meningkatkan kesejahtraan masyarakat papua terutama suku – suku pedalaman agar konflik suku yang di timbulkan karna ke primitifan suku yang bertikai.
Kemudian adat dan kebudayaan juga mampu meminimalisir konflik antar suku di papua sebagaimana kita ketahui bahwa kebudayaan di papua sangat melimpah salah satunya Upacara Bakar Batu agar tidak adalagi darah yang tumpah dari seorang yang hitam kulit. keriting rambut dan panah dan parang bukan sebagai alat perang tetapi alat untuk mempersatukan suku yang bertikai.

3.    Bagaimana fungsi dari upacara Bakar Batu dalam mengatasi konflik suku di Papua.
  Upacara bakar batu merupakan kebiasaan atau budaya orang papua, Bakar matu biasanya di gunakan pada saat upacara penting seperti kematian,perkawinan dan sebagai sarana perdamayan antar suku yang bertikai. Hampir semua suku di papua mempunyai kemiripan dalam upacara bekar batu ini.Upaca bakar batu adalah proses memasak dengan menggunakan bahan batu yang sudah di panaskan dengan hidangan berupa hasil perkebunan seperti ubi-ubian, sayuran,dan menggunakan daging Babi. Biasanya untuk upacara semacam ini di lakukan di tempat yang terbuka seperti lapangan dan lain- lain.
    Proses upacara ini di mulai dengan mempersiapkan bahan makanan berupa hasil perkebunan dan juga daging babi. Pertama lapisan bawahnya di lapis dengan daun-daun kemudian bahan –bahan tadi di letakan di atas daun tersebut, lalu di lapis lagi dengan daun kemudian pada lapisan kedua di beri batu yang suda di panaskan tadi dan areng, kemudian di lapis lagi dengan de daunan agar asap tidak keluar agar bahan- bahan tadi masak secara merata. Biasanya dalam upacara Bakar batu untuk proses perdamayan antar kedua suku yang bertikai di pertemukan kedua suku untuk saling bergotong royong untuk menyelengarakan upacara ini. Setelah selesai kedua kubu yang bertikai sama- sama menyantap hidangan tadi untuk sebagai komitmen perdamayan.
            Papua yang kita ketahui merupakan daerah yang kaya dengan budaya suku dan lain sebagainya dari keberagaman tersebut tidak bisa di pungkuri bahwa sering terjadi konfli seperti konflik antar suku, namun papua juga masi kental dengan kearifan lokal untuk mengatasi konflik yang timbul dari keberagaman tersebut seperti upacara Bakar Batu yang di gunakan sebagai sarana perdamaian kedua suku yang berkonflik. Upacara ini sangat efektif di mana masing suku yang bertikai di pertemukan untuk menyantap hidangkan tadi kemudian saling berjabat tangan sebagai ungkapan saling memanfaatkan, ini merupakan cermin bahwa kebudayaan menyatuhkan masyarakat papua yang beragam suku di tengah ketidak adilan,dan masyarakat hanya tau banyak hutan yang hilang, banyak tambang,asalkan ada ubi tuk makan, asalkan ada Babi untuk di panggang aku cukup senang[4].

F.Penutup
 Kesimpulan
            Kebanyakan Konflik suku di papua di picu akibat masalah yang sebenarnya sepeleh yaitu  Masalah perjinahan atau perselingkuhan, pembunuhan, kematian tidak wajar, dan rasa dendam yang mendalammerupakan salah satu penyebab perang suku di daerah pedalaman Papua. Di samping itu konflik internal antara suku yang terjadi waktu lampau juga menjadi salah satu factor penyebab perang suku dari dua oknum tetapi merembet sampai pada konflik antar suku. Namun kalau kita kaji lebih jauh konflik suku di papua di sebabkan oleh masalah yang sangat serius yaitu masalah kesejahtraan,pendidikan,ke tidak adilan,kesenjangan ekonomi,dan interfensi politik.Daerah yang kaya dengan sumberdaya alamnya namun kesejahtraan massyarakat terutama suku pedalaman sangat memprihatinkan dengan masalah tersebut banyak oknum yang memanfaatkan  untuk tujuan yang di inginan seperti dalam pemilu kada sehingga konlik di papua kerap terjadi terutama konflik antar suku.
             Namun papua juga di kenal sebagai daerah yang kaya dengan dengan budaya,adat kebiasaan seperti upacara Bakar batu. Bakar Batu biasanya di laksanakan pada saat perkawiinan,kematian dan lain –lain. Namun Bakar batu ini juga di gunakan untuk proses perdamayan antar suku di papua.Di mana kedua suku yang betikai di pertemukan untuk sama –sama menyantap hidangan tersebut kemudian saling berjabat tangan sebagai tanda perdamaian.

Rekomendasi
            Konflik suku di Papua berakar pada faktor ekonomi,kesejahtraan,politik, dan kurangnya pendidikan. Hal ini merupakan tanggung jawab dari pemerintah untuk meminalisir terjadinya konflik antar suku di papua. Peningkatan kesejahtraan, pendidikan merupakan hal yang paling di perlukan guna mengatasi massyarakat papua dari kebodohan,kemiskinan karna akar permasalahan konflik suku yaitu masalah keprimitifan suku- suku yang bertikai dan konflik juga di akibatkan oleh interfensi politik artinya ada elit politik/oknum memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi. oleh karna itu ada beberapa hal yang penulis coba mengusulkan kepada pemerintah agar  konflik antar suku ini bisa di minimalisir.
1. Meningkatkan taraf hidup masyarakat papua terutama suku- suku pedalaman,
2.Pendidikan harus di tingkatkan lagi terutama pendidikan multikultural,pancasila,dan  pendidikan kewarganegaraan (PKN) kepada seluru lapisan masyarakat Papua terutama suku-suku yang bertikai
3. Meningkatkan semangat kearifan lokal kepada massyarakt papua.
4. Melakukan pendekatan yang lebih intensif dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah daerah maupun pusat.




ffuyy,um





Daftar Pustaka

Karoba,S, dkk, 2004. Papua Menggugat. Galang Press, Yogyakarta.
Smith, G, 2005. Konflik Kekerasan Internal,Buku Obor,Jakarta
 Lay, C dan Santoso, P, 2006. Perjuangan Menuju Puncak. PLOD, Yogyakatra.
Mahfud, C 2006. Pendidikan Multikultural. Pustaka Pelajar, Jakarta.
Siahaan F. Mereduksi konflik Vertikal dan Horizontal di Papua. Jurnal ; Eahtanicity and Globalization
Mansoben J.R.. Sistem politik tradisional etnis Biak Kajian tentang Pemerintahan Tradisional.

 Kogoya, I, Jurnal. Peran Kepemimpinan Kepala suku Dalam Mengatasi Konflik Antar Suku Dani Dan Suku Damal hal 29

Sugandi, Y. jurnal 2008. Analisis Konflik Dan Rekomendasi Mengenai Papua hal 143,,arpjhkjahgghjfgjhaskjfhkhfkjnsnyfiewluyfhewhf





[1] Yulia sugandi: analisis konflik dan rekomendasi kebijakan mengenai papua. Jurnal. Hal 3
[2]Sem Karoba,dkk,Papua menggugat ,Watch PAPUA,2004. Hal 42
[3]Choirul Mahfud, pendidikan multikultural 2006 pustaka pelajar hal 167
[4]Dengar lagu slenk. Dari album ke 6 lagu ini berceritakan tentang massyarakat papua.