A. Latar
Belakang Masalah
Tanah
Papua merupakan salah satu wilayah di indonesia yang masih menyimpang
berbahagai macam permasalahan sosial. Salah satu masalah sosial yang sampai sekarang
telah ada dan masih terjadi adalah konflik sosial. Konflik sosial yang terjadi
di Tanah Papua sangat beragam dan mencakup semua ini kehidupan, melai dari
aspek sosial, budaya, politik dan ekonomi. Konflik sosialyang terjadi di Tanah
Papua pada beberapa tahun belakang ini juga tidak terlepas dari pokok
permasalahan tersebut utamanya adalah konflik sosial yang di picu oleh
perbedaan suku, budaya dan golongan atau kelompok, sesuai dengan karakteristik
dan dianggapnya sebagai salah satu permasalahan yang dapat merugikan dan
mengganggu bahkan melanggar aturan dan norma yang berlaku pada suku-suku yang
ada.
Papua
merupakan provinsi di Indonesia bagian paling timur, Luas wilayah Papua adalah
421.981 KM2 dengan topografi yang meliputi daerah pegunungan dan sebagian besar
tanahyang berawa-rawa di daerah pesisir[1].
Selain itu Papua juga memiliki berbagai macam keanekaragaman budaya, suku-suku,
dan kaya akan sumber daya alam. Masyarakat Papua sebagian besar adalah petani.
Mereka bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Papua merupakan
salah satu wilayah yang sangat kaya akan sumber daya alam walaupun begitu
wilayah ini masih tertinggal dibandingkan dengan wilayah lain. Hal ini disebabkan
karena kurangnya perhatian pemerintah
akan wilayah Papua.
Mendengar
kata Papua secara tidak langsung akan terlintas dipikiran kita tentang berbagai
macam konflik yang terjadi. Konflik antara masyarakat dengan pihak
industri/perusahaan, masyarakat dengan pihak aparat keamanan, dan konflik yang
terjadi antar suku-suku di Papua. Ketidakadilan sosial, kesenjangan ekonomi, interfensi politik dan
rusaknya lingkungan hal- hal ini yang menimbulkan terjadinya konflik suku di
Papua menjadi sering terjadi2.
Kurangnya pendidikan juga mengakibatkan konflik suku di
Papua sering terjadi. Wilayah Papua merupakan daerah yang sangat kaya dengan sumberdaya alamnya (SDA)
tetapi kesejahtraan di Papua masih sangat kurang dan papua di catat sebagai
salah satu daerah termiskin di Indonesia. Hal ini menjadi pertanyaan mengapa
daerah yang kaya dengan sumber daya alamnya yang melimpah tetapi tingkat
kesejahtraan sangat rendah.Ini juga yang menimbulkan sering terjadinya
konflik antara suku – suku di Papua.
Akan
tetapi massyarakat Papua masih memiliki adat yang kental. Di mana ada kebiasaan
massyarakat Papua untuk mengatasi konflik yaitu upacara Bakar batu. Upacara
bakar batu ini di gunakan dalam acara- acara besar masyarakat Papua dan sebagai
sarana perdamaian di antara suku- suku yang berkonflik, di mana upacara bakar
batu ini mempertemukan pihak –pihak yang bertikai dan saling bergontong royong
dalam membuat upacara ini dan kemudian di makan secara bersama–sama sebagai
tanda perdamaian di antara keduanya.
Upacara
bakar batu ini menjadi efektif sebagai sarana perdamayan konflik suku di Papua,
hal ini tidak terlepas dari kebiasaan massyarakat papua yang masi kental akan
budaya dan adat setempat. Namun perlu juga peran pemerintah dalam mengatasi
konflik di papua dengan membari pendidikan dan mensejahtrakan massyarakat papua
agar konflik suku bisa dia atasi karna hasil penilitian menunjukan bahwa
penyebab terjadinya konflik di papua adalah ketidak adilan sosial, faktor
ekonomi dan kurangnya pendidikan bagi massyarakat sosial.
B.
Rumusan Masalah
1.
Faktor- faktor penyebab konflik suku di
Papua..?
2.
Bagaimana fungsi dari upacara Bakar Batu
dalam mengatasi konflik suku di Papua..?
C
.Manfaat penilitian
1. Untuk
mengetahui sebab- sebab terjadinya konflik suku di papua
2. Sebagai
rekomendasi kepada pemerintah untuk menanggulangi konflik suku di papua.
3. Sebagai
sarana pembelajaran.
D.
Kerangka Teori
Penilitian
Terdahulu
|
No
|
Peniliti/Judul
|
Metode penilitian
|
Kesimpulan
|
|
1
|
Sugandi,Y, 2008, “Mereduksi Konflik dan
Rekomendasi Kebijakan Mengenai Papua
|
Analisis Deskriptif
|
Berbagai
hal yang peru diperhatikan dalam mereduksi konflikdan kebijakan di Papua
yaitu harus memberikan perlindungan terhadap penduduk asli Papua sampaipada
tingkat desa. Memastikan kesinambungan dari program tersebut menyentuh kelompok rentan.Strategi intervensi harus mempunyai
kebijakan yangseimbang baik dalam konteks dan pada para pelaku, danmendukung
program mandiri di Papua akanmempertegas martabat dari penduduk asli Papua
ditanah mereka sendiri.
|
|
2
|
Siahaan, F,
2010, Mereduksi Konflik Vertikal dan Horizontal di Papua
|
Analis Deskriptif
|
1. Penyebab secara vertikal adalah
gaya kepentingan nasional yang menempatkan kepentingan etnis tertentu di atas
kepentingan umum diikuti oleh kurangnya kapasitas nasional dalam mengelolah
pemerintahan yang sarat dengan hal-hal yang beriontasi proyek dari pada yang
bermanfaat bagi publik.
2.Penyeban secara horizontal di
sebabkan kekesalan penduduk Papua akan kesejahtraan hidub mereka.
|
|
3
|
Kogoya, U, “Peran kepala suku dalam
mengaatasi konflik antara suku Damil dan suku di kabupaten (studi kasus di
Mimika provinsi Papua).
|
Deskriptif
kualitatif
|
Konflik yang terjadi
di antara suku Dani dan suku Damal yang ada di Kabupaten Mimika di mulai
sejak pertengahan tahun 2013, yaitu di daerah tambang emas dimana kedua suku
ini menjadi tambang Mimika sebagai sumber mata pencaharian, berawal dari
salah satu perempuan suku dani di perkosa oleh salah satu anggota suku damal,
hal ini tidak dapat diterima oleh suku Dani, secara spontan anggota suku Dani
menyerang suku Damal, sehingga terjadilah perang antara suku dani dan suku
Damal.
Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa
kepala suku tidak mampu meredam konflik, serta memberikan ketenangan bagi
anggota.
|
Teori
Konflik
Menurut Edward Azar,
menyebutkanada3pra-kondisi yang mengarahpadaterjadinyaataupemicukonflik internal,
yaitu :
1.
Hubungan yang tidak harmonis antara kelompok
identitas seperti suku, agama dan budaya dengan pemerintah. Pemerintah
cenderung tidak mengakui eksistensi kelompok identitas tersebut dan bahkan
berusaha mengeliminasinya demi kepentingan dan keutuhan negara. Akibatnya,
terjadi pertentangan terhadap kelompok identitas tertentu dan mendorong para
anggotanya untuk melakukan perlawanan terhadap negara. Sebagai contoh,
pemerintah Orde Baru telah mengancam eksistensi kelompok identitas Aceh dan
Papua sehingga mereka bangkit dan melakukan perlawanan bersenjata terhadap
pemerintah pusat.
2.
Konflik juga dikaitkan dengan kenyataan
bahwa pemerintah telah gagal dalam memenuhi kebutuhan dasar kemanusiaan
sehingga terjadi proses kemiskinan. Proses secara ekonomi telah menciptakan kemiskinan
sementara kekuatan ekonomi dan politik dari pusat menikmati surplus ekonomi
sebagai hasil eksploitasi SDA di daerah-daerah yang dilanda konflik. Seperti
contoh, bagi rakyat Aceh dan Papua bahwa di tengah kekayaan alam mereka yang
berlimpah terdapat jumlah penduduk miskin yang tergolong tinggi bila
dibandingkan dengan daerah-daerah lain yang tidak memiliki SDA.
3. Sebab
konflik internal berkaitan dengan karakteristik pemerintahan yang otoriter dan
mengabaikan aspirasi politik dari masyarakat. Dalam hal ini pemerintah pusat
menyakini asumsi bahwa kekuasaan yang terpusat (sentral) menjamin kontrol yang
efektif atas masyarakat. Bahkan kekuatan militer digunakan terhadap setiap
bentuk protes atau perlawanan terhadap pemerintahan yang otoriter. Pemerintah daerah
juga tidak dapat berfungsi sebagai alat perjuangan kepentingan masyarakat
daerah dikarenakan elit-elit daerah ikut menikmati eksploitasi SDA.
Menurut Michel
E. Brown, kompleksitas konflik internal tidak hanya dijelaskan hanya oleh satu
faktor atau variabel pada kebijakan atau perilaku elit pemimipin sebagai pemicu
terjadinya konflik di suatu daerah, bahwa faktor-faktor sruktural, politik,
ekonomi, sosial, budaya menjadikan suatu daerah rentan terhadap terjadinya
konflik.
Tabel 1.1.Sebab-sebabutamadansebab-sebabpemicukonflik
internal
|
Sebab utama (underlying causes)
|
Sebab pemicu (proximate causes)
|
|
Faktor Struktural :
·
Negara yang lemah
·
Kekhawatiran tentang keamanan internal
·
Geografis etnis
|
Faktor Struktural :
·
Negara yang sedang runtuh/gagal
·
Perubahan perimbangan kekuatan militer
·
Perubahan pola-pola demografis
|
|
Faktor Politik :
·
Lembaga politik yang diskriminatif
·
Ideologi nasional yang eksklusif
·
Politik antar kelompok
·
Politik elit
|
Faktor Politik :
·
Transisi politik
·
Ideologi eksklusif yang semakin berpengaruh
·
Persaingan antar kelompok yang semakin tajam
·
Pertarungan kepimpinan yang semakin tajam
|
|
Faktor Ekonomi/Sosial :
·
Masalah ekonomi
·
Sistem ekonomi yang
diskriminatif
·
Pembangunan ekonomi dan modernisasi
FaktorSosialBudaya :
·
Pola diskriminasi budaya
·
Sejarah kelompok yang bermasalah
|
Faktor Ekonomi/Sosial :
·
Masalah ekonomi yang semakin parah
·
Ketimpangan ekonomi yang semakin lebar
·
Pembangunan ekonomi dan modernisasi yang cepat
FaktorSosialBudaya :
·
Pola diskriminasi budaya yang semakin kuat
·
Penghinaan etnis dan propaganda
|
Sumber
:Yulius P. Hermawan, TransformasidalamStudiHubunganInternasional: Aktor, IsudanMetodologi,
Yogyakarta, GrahaIlmu, 2007, hal. 91
Menurut Pierre L Van dan Berghe berbendapat bahwa
massyarakar majemuk sebagai berikut
1. Terjadinya
segmintasi ke dalam kelompok yang seringkali memiliki subkebudayaan yang
berbeda satu sama lain
2. Memiliki
struktur sosial yang tebagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat
neo-komplementer
3. Kurang
mengembangkan konsesus kepada anggotanya terhadab nilai- nilai yang bersifat
dasar
4. Secara
relatif seringkali terjadi konflik kelompok yang satu dengan kelompok yang lain
5. Secara
relatif integrasi sosial tumbu di atas paksaan dan sering tergantung pada
masalah ekonomi
6. Adanya
dominasi politik oleh satu kelompok dengan kelompok yang lain.
E.
Pembahasan.
1. Pengertian
konflik dan sebabnya
MenurutWese Becker, konflikmerupakan proses sosialdimana orang
ataukelompokmanusiaberusahamemenuhitujuannyadenganjalanmenentangpihak lain yang
di sertaidenganancamanataukekerasan. Bentukkonflikbiasanyateridentifikasikanolehsuatukondisiolehsekelompokmanusia,
yang di dalamnyaterdiridarisuku, etnis, budaya, agama, ekonomi, politik,
sosial, yang berbedabeda.konflikdilatarbelakangiolehperbedaan-perbedaansosialdiantaraindividu
yang terlibatdalamsuatuinteraksi sosial. Faktor-faktor yang memicu konflik antara lain:
a.
Perbedaan Individu
Merupakan perbedaan
yang menyangkut perasaan, pendirian, pendapat atau ide yang berkaitan dengan
harga diri, kebanggaan dan identitas seseorang. Perbedaan kebiasaan dan perasaan
yang dapat menimbulkan kebencian dan amarah sebagai awal timbulnya
konflik. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan
pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa
terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
b. Perbedaan
Latar Belakang Kebudayaan
Kepribadian seseorang
dibentuk dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Tidak semua masyarakat
memiliki nilai-nilai dan norma-norma sosial yang sama. Apa yang dianggap baik
oleh suatu masyarakat belum tentu sama dengan apa yang dianggap baik oleh
masyarakat. Misalnya orang jawa dengan orang papua yang memiliki budaya
berbeda, jelas akan membedakan pola pikir dan kepribadian yang berbeda pula.
Jika hal ini tak ada suatu hal yang dapat mempersatukan, akan berakibat
timbulnya konflik.
c.
Perbedaan Kepentingan
Setiap individu atau
keompok seringkali memiliki kepentingan yang berbeda dengan individu atau
kelompok lainnya. semua itu bergantung dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
Perbedaan kepentingan ini menyangkut kepentingan ekonomi, politik, sosial, dan
budaya. Misalnya seseorang pengusaha menghendaki adanya penghematan dalam biaya
suatu produksi sehingga terpaksa harus melakukan rasionalisasi pegawai. Namun,
para pegawai yang terkena rasionalisasi merasa hak-haknya diabaikan sehingga
perbedaan kepentingan tersebut menimbulkan suatu konflik. Misalnya
mengenai masalah pemanfaatan hutan. Para pecinta alam menganggap hutan sebagai
bagian dari lingkungan hidup manusia dan habitat dari flora dan fauna. Sedangkan
bagi para petani hutan dapat menghambat
tumbuhnya jumlah areal persawahan atau perkebunan. Bagi para pengusaha
kayu tentu ini menjadi komoditas yang menguntungkan. Dari kasus ini ada pihak–
pihak yang memiliki kepentingan yang saling bertentangan, sehingga dapat
berakibat timbulnya konflik.
d. Perubahan
Sosial
Perubahan sosial dalam
sebuah masyarakat yang terjadi terlalu cepat dapat mengganggu keseimbangan
sistem nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Konflik dapat terjadi
karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu atau masyarakat dengan
kenyataan sosial yang timbul akibat perubahan itu. Misalnya, pada
masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan
memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional
yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai
masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai
kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang
disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi
hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan.
Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang
pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu
yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri.
Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat
kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya
penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan
kehiodupan masyarakat yang telah ada.
2. Penyebab
terjadinya konflik suku di Papua
Papua
terkenal dengan ke eksotisan wilayanya,ragam budaya, sumberdaya alam yang melimpah,
bermacam bahasa,suku, adat dan
sebagainya.Akan tetapi dengan keberagaman tersebut sering menimbulkan konflik
salah satunya konflik suku. Ada dua ratus empat pulu enam suku yang mendiami
wilayah papua yang mempunyai kebiasaan yang berbeda biasanya setiap suku
mempunyai ketua atau yang di namai kepala suku yang di hormati oleh warga atau
anggota.
Kekayaan
alam yang melimpah seperti pertambangan berupa batu bara, emas, nikel dan lain-
lain yang di ekspolitasi besar- besaran namun kesejahtraan massyarakat tidak
terpenuhi Papua merupakan sala satu daerah yang kategorikan miskin dan
keterbelakangan di indonesia. Hal ini di lihat dari presentasi masyaratat yang
mengenyam pendidikan sangat rendah,dan tingkat kematian ibu dan adak yang
banyak dan akses transportasi yang sangat minim.ini meninbulkan kekecewaan
masyarakat papua sehingga manimbulkan aksi
yang mencoba memisahkan diri dari NKRI seperti OPM dan lain- lain.
Sebagaimana ada tanggapan bahwa
Kepentingan orang Papua itu adalah terutama bahwa orang papua mau melepaskan
diri dari belenggu penjajahan NKRI[2],
Penulis perna bertanya salah satu
massyarakat papua yang menempuh pendidikan di Jogjakarta di 0 km Maliboro. Dia
seakan mempertegas pernyataan ini bahwa Papua adalah jajahan NKRI karna dengan
kekayaan alam Papua tidak mendapatkan apa- apa masyarakat papua hanya
pendapatkan limbah perusahan.
Dengan
keberagaman suku dan budaya di Papua juga menimbulkan terjadinya konflik
Horizontal seperti konflik antar suku.ada beberapa pemicu konflik suku di papua
yaitu Masalah persinahan
atau perselingkuhan, pembunuhan, kematian tidak wajar, dan rasa dendam yang
mendalammerupakan salah satu penyebab perang suku di daerah pedalaman Papua. Di
samping itu konflik internal antara suku yang terjadi waktu lampau juga menjadi
salah satu factor penyebab perang suku dan kelompok di daerah pedalaman Papua
yang dapat menyebabkan kerugian secara fisik maupun materi lainnya..namun
kalu kita cermati labih dalam konflik suku di picu di akibatkan oleh kurangnya pendidikan untuk
massyarakat sehingga suku yang bertikai yang merupakan massyarakat yang
primitif menjadi tentan akan terjadinya konflik,kemudia ketidak adilan sosial
sebagai mana penulis sampaikan dia atas bahwa kurangnya kesejahtraan bagi
massyarakat papua menimbulkan tentan terjadinya konflik horinzontal antar warga
suku di papua kemudian kesenjangan
ekonomin hal ini merupakan masalah krusial dagi massyarakat sering kali konflik
antar suku di papua di picu oleh masalah sepeleh seperti perebutan tanah sampai
dengan masalah politik.
Konflik
yang terjadi di papua juga berimbas dari masalah politik pemilukada misalnya seperti kejadian di
kabupaten di Papua Barat ada oknum yang kalah memanfaatkan ke primitiffan
massyarakat papua untuk membuat aksi seperti pembakaran Gedung KPU sehingga
merembet sampai pada konflik antar suku di Papua Barat. Kemudian UU 34 THUN
2004 tentang pemilihan kepalah daerah langsung. tetapi tidak di beri pendidikan
politik terhadap masyarakat papua khususnya untuk mampu menganalisis dan
memilih secara demokratis.hal ini mengakibatkan oknom- oknum tertentu
memmanfaatkan masyrakat papua melalui kepala suku untuk mendulang suara yang
sebagai mana di ketahui bahwa kepala suku merupakan orang yang di hormati oleh
massyarakatnya.
Oleh
kerena itu penulis menyimpulkan bahwa konflik suku yang sering terjadi di Papua
di sebabkan kurangnya pendidikan,ke tidak adilan, kesenjangan ekonomi dan
interfensi politik namun pendidikan merupakan hal yang krusial dalam mengatasi
konfli,konflik dalam masyarakat mejemuk memang tidak bisa di hindari akan
tetapi potensi, bukan berarti potensi konflik ini tidak busa di minimalisir.
Salah satu cara untuk mengeliminasir salah satu cara menimalir potensi konflik
yaitu pendidikan[3].
Selain itu peran pemerintah juga menjadi sangat penting untuk menimalisir
terjadinya konflik dengan cara memberi kehidupan yang layak dan meningkatkan
kesejahtraan masyarakat papua terutama suku – suku pedalaman agar konflik suku
yang di timbulkan karna ke primitifan suku yang bertikai.
Kemudian
adat dan kebudayaan juga mampu meminimalisir konflik antar suku di papua
sebagaimana kita ketahui bahwa kebudayaan di papua sangat melimpah salah
satunya Upacara Bakar Batu agar tidak adalagi darah yang tumpah dari seorang
yang hitam kulit. keriting rambut dan panah dan parang bukan sebagai alat
perang tetapi alat untuk mempersatukan suku yang bertikai.
3. Bagaimana
fungsi dari upacara Bakar Batu dalam mengatasi konflik suku di Papua.
Upacara bakar batu merupakan kebiasaan atau
budaya orang papua, Bakar matu biasanya di gunakan pada saat upacara penting
seperti kematian,perkawinan dan sebagai sarana perdamayan antar suku yang
bertikai. Hampir semua suku di papua mempunyai kemiripan dalam upacara bekar
batu ini.Upaca bakar batu adalah proses memasak dengan menggunakan bahan batu yang
sudah di panaskan dengan hidangan berupa hasil perkebunan seperti ubi-ubian,
sayuran,dan menggunakan daging Babi. Biasanya untuk upacara semacam ini di
lakukan di tempat yang terbuka seperti lapangan dan lain- lain.
Proses upacara ini di mulai dengan
mempersiapkan bahan makanan berupa hasil perkebunan dan juga daging babi.
Pertama lapisan bawahnya di lapis dengan daun-daun kemudian bahan –bahan tadi
di letakan di atas daun tersebut, lalu di lapis lagi dengan daun kemudian pada
lapisan kedua di beri batu yang suda di panaskan tadi dan areng, kemudian di
lapis lagi dengan de daunan agar asap tidak keluar agar bahan- bahan tadi masak
secara merata. Biasanya dalam upacara Bakar batu untuk proses perdamayan antar
kedua suku yang bertikai di pertemukan kedua suku untuk saling bergotong royong
untuk menyelengarakan upacara ini. Setelah selesai kedua kubu yang bertikai
sama- sama menyantap hidangan tadi untuk sebagai komitmen perdamayan.
Papua yang kita ketahui merupakan
daerah yang kaya dengan budaya suku dan lain sebagainya dari keberagaman
tersebut tidak bisa di pungkuri bahwa sering terjadi konfli seperti konflik
antar suku, namun papua juga masi kental dengan kearifan lokal untuk mengatasi
konflik yang timbul dari keberagaman tersebut seperti upacara Bakar Batu yang
di gunakan sebagai sarana perdamaian kedua suku yang berkonflik. Upacara ini
sangat efektif di mana masing suku yang bertikai di pertemukan untuk menyantap
hidangkan tadi kemudian saling berjabat tangan sebagai ungkapan saling
memanfaatkan, ini merupakan cermin bahwa kebudayaan menyatuhkan masyarakat
papua yang beragam suku di tengah ketidak adilan,dan masyarakat hanya tau
banyak hutan yang hilang, banyak tambang,asalkan ada ubi tuk makan, asalkan ada
Babi untuk di panggang aku cukup senang[4].
F.Penutup
Kesimpulan
Kebanyakan Konflik suku di papua di
picu akibat masalah yang sebenarnya sepeleh yaitu Masalah perjinahan atau perselingkuhan,
pembunuhan, kematian tidak wajar, dan rasa dendam yang mendalammerupakan salah
satu penyebab perang suku di daerah pedalaman Papua. Di samping itu konflik
internal antara suku yang terjadi waktu lampau juga menjadi salah satu factor
penyebab perang suku dari dua oknum tetapi merembet sampai pada konflik antar
suku. Namun kalau kita kaji lebih jauh konflik suku di papua di sebabkan oleh
masalah yang sangat serius yaitu masalah kesejahtraan,pendidikan,ke tidak
adilan,kesenjangan ekonomi,dan interfensi politik.Daerah yang kaya dengan
sumberdaya alamnya namun kesejahtraan massyarakat terutama suku pedalaman sangat
memprihatinkan dengan masalah tersebut banyak oknum yang memanfaatkan untuk tujuan yang di inginan seperti dalam
pemilu kada sehingga konlik di papua kerap terjadi terutama konflik antar suku.
Namun papua juga di kenal sebagai daerah yang kaya
dengan dengan budaya,adat kebiasaan seperti upacara Bakar batu. Bakar Batu
biasanya di laksanakan pada saat perkawiinan,kematian dan lain –lain. Namun
Bakar batu ini juga di gunakan untuk proses perdamayan antar suku di papua.Di
mana kedua suku yang betikai di pertemukan untuk sama –sama menyantap hidangan
tersebut kemudian saling berjabat tangan sebagai tanda perdamaian.
Rekomendasi
Konflik suku di Papua berakar pada
faktor ekonomi,kesejahtraan,politik, dan kurangnya pendidikan. Hal ini
merupakan tanggung jawab dari pemerintah untuk meminalisir terjadinya konflik
antar suku di papua. Peningkatan kesejahtraan, pendidikan merupakan hal yang
paling di perlukan guna mengatasi massyarakat papua dari kebodohan,kemiskinan
karna akar permasalahan konflik suku yaitu masalah keprimitifan suku- suku yang
bertikai dan konflik juga di akibatkan oleh interfensi politik artinya ada elit
politik/oknum memanfaatkan mereka untuk kepentingan pribadi. oleh karna itu ada
beberapa hal yang penulis coba mengusulkan kepada pemerintah agar konflik antar suku ini bisa di minimalisir.
1.
Meningkatkan taraf hidup masyarakat papua terutama suku- suku pedalaman,
2.Pendidikan harus di tingkatkan lagi
terutama pendidikan multikultural,pancasila,dan
pendidikan kewarganegaraan (PKN) kepada seluru lapisan masyarakat Papua
terutama suku-suku yang bertikai
3.
Meningkatkan semangat kearifan lokal kepada massyarakt papua.
4. Melakukan pendekatan yang lebih
intensif dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah daerah
maupun pusat.
ffuyy,um
Daftar Pustaka
Karoba,S,
dkk, 2004. Papua Menggugat. Galang
Press, Yogyakarta.
Smith,
G, 2005. Konflik Kekerasan Internal,Buku
Obor,Jakarta
Lay, C dan Santoso, P, 2006. Perjuangan Menuju Puncak. PLOD,
Yogyakatra.
Mahfud,
C 2006. Pendidikan Multikultural. Pustaka
Pelajar, Jakarta.
Siahaan
F. Mereduksi konflik Vertikal dan
Horizontal di Papua. Jurnal ; Eahtanicity
and Globalization
Mansoben J.R.. Sistem politik
tradisional etnis Biak Kajian tentang Pemerintahan Tradisional.
Kogoya, I, Jurnal. Peran Kepemimpinan Kepala suku Dalam Mengatasi Konflik Antar Suku
Dani Dan Suku Damal hal 29
Sugandi, Y. jurnal
2008. Analisis Konflik Dan Rekomendasi
Mengenai Papua hal 143,,arpjhkjahgghjfgjhaskjfhkhfkjnsnyfiewluyfhewhf
[1] Yulia
sugandi: analisis konflik dan rekomendasi kebijakan mengenai papua. Jurnal. Hal
3
[2]Sem
Karoba,dkk,Papua menggugat ,Watch PAPUA,2004. Hal 42
[3]Choirul
Mahfud, pendidikan multikultural 2006 pustaka pelajar hal 167
[4]Dengar
lagu slenk. Dari album ke 6 lagu ini berceritakan tentang massyarakat papua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar